Kamis, 03 Maret 2011
Sahabat dan Pacar
1. Sahabat
sahabat. yang akan selalu ada untuk kita. membantu kita jka kita ada masalah. membantu mereka keluar dari masalah mereka. dan saling berbagi satu sama lain. banyak kata lagi yang mendeskripsikan tentang sahabat. tidak sedikit lagu-lagu yang bertemakan tentang sahabat. sahabat adalah seseorang yang selalu ada di samping kita, membantu kita, dan berbagi. jika mereka dalam masalah, tentu kita pasti akan membantu mereka. bisa diajak ngobrol satu sama lain, tawa, canda, maupun sedih. terdakang sahabat tak selamanya sempurna. terkadang ada pertengkaran yang membuat kita jauh dari sahabat kita. namun, guna pertengkaran itu bukan membuat kita minder bahwa kita tidak bisa bersahabat dengan mereka, tapi untuk mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah itu. jadi, jika sahabatmu melakukan kesalahan kepadamu, janganlah kamu lari dengan berharap masalah itu akan selesai, tapi dekatilah masalah itu, dan cari taulah bagaimana cara mengatasi masalah itu. maka dengan itu, masalah akan cepat selesai. memang rintangannya sangat berat untuk dihadapi. namun kita harus bisa menghadapi rintangan itu agar kita belajar bahwa sahabat tak selamanya langsung sempurna, seperti bayi, dia harus merangkak dulu, baru bisa berjalan. maka Sind3ntosca membuat lagu berjudul "Kempompong" dengan cuplikan lirik seperti ini:
persahabatan bagai kepompong
merubah ulat menjadi kupu-kupu
persahabatan bagai kepompong
hal yang tak mudah berubah jadi indah
persahabatan bagai kepompong
maklumi teman hadapi perbedaan
persahabatan bagai kepompong
kepompong.....
ternyata, persahabatan itu seperti ulat, dimana ulat adalah makhluk yang dibenci, berubah menjadi kepompong dengan rintangan akan cuaca dan suasana di luar, lalu berubah menjadi kupu2 yang sangat indah bagi semua orang. sekian disini soal sahabat. jika kamu punya sahabat, berusahalah untuk slalu membuat dia tersenyum.
2. Pacar
jika punya sahabat lawan jenis, mungkin kita akan merasakan suatu rasa yang sangat indah. itulah cinta. jika kita merasakannya, tentu kita akan mengungkapkannya. jika begitu, maka seseorang tersebut akan menjadi pacar kita. pacar adalah sebutan untuk orang yang kita sayangi. jika kita mencintainya sepenuh hati, maka ia akan melakukannya juga. banyak lagu yang bertemakan cinta-cintaan ini. sama seperti sahabat, pacaran pun punya rintangan, bahkan sangat berat. belum lagi soal pertengkarannya. dan bisa saja akan berakhir dengan putus. jadi, tantangan kamu untuk mengatasi masalah ini sangat berat. kamu harus lebih bisa berbuat sesuatu agar dapat menyelesaikan masalah ini. memang pacar ini sangat penting, apalagi bagi kita yang mau nikah. kita harus bisa lebih tau tentang jodoh kita itu. kalau gak, hubungan kita jadi gak harmonis.
oke, sobat Enfors. gimana soal 2 sebutan tadi? bagus, kan? sobat Enfors, sekian posting gw ini, mudah2an kalian bisa memahami betul tentang sahabat dan pacar. terima kasih... see you next posting.....
Senin, 14 Februari 2011
What the Valentine
Jumat, 11 Februari 2011
Hari Rabu part 2
bel istirahat kedua, waktunya gw melaksanakan kewajiban gw, yaitu sholat jumat. eh, salah, sholat dzuhur (maklum, sekarang hari jumat). gw sama faisal pergi ke masjid (atau mushola karna ukurannya gk terlalu besar). ngambil wudhu, masuk, dan sholat. ok, skip sampe kelas (again). sampe kelas, apa lagi ya???? sudahlah, gw skip sampe yg gw inget. 10 formatur balik lagi (sebenernya gw pengen tanya, ngapain aja sih? bolak balik mulu). nah, gw pengen berada di posisi galau gw (aseeeeeeek). posisi yg tepat adalah di tengah2 pintu, dengan setengah badan di luar kelas, sebagian di dalem. jadi bimbang, kan? ok, inget berkas punya widhi yg diambil ulfi? ok, sekarang gw ceritain tentang berkas itu. saat gw lagi PG (posisi galau), tiba2 ulfi bilang ke widhi kalo gw ngacak2 berkasnya. eh, buset dah!!!! knapa kalo widhi ada masalah, gw yg kena mulu. hah. widhi pun langsung ngeluh ke gw, "ah, rafi....... paraaaaaah"(klo gk salah). dengan muka segarang Ashlan, singa yang ada di Narnia, gw pun maju menuju ulfi dengan maksud menakuti dia dengan muka serem gw (kyknya muka gw gk serem kale). okeh, skip (kbanyakan skip, karna gk inget lagi). indah gambar2 sesuatu di papan tulis. meskipun gambarnya gk jelas, tapi pusat dari fokus gambar itu adalah 'widhi'. pertama, indah gambar sketsa muka widhi. tapi gk terlalu mirip (menurut gw). pas widhi ngeliat, langsung dihapus. yaaaaaaaaahhhhh. padahal gambarnya bagus, lho. ok, trus indah bilang, "yaudah, gambar es krim aja". digambar es krim sama batangnya. pas widhi gk ngeliat, "tapi ujung2nya gambar muka widhi". wkwkwkwkwkwk. tiap kali gambar, tiap kali juga dihapus. okeh, istirahat kedua yg geje, skip sampe pelajaran b. inggris.
beruntungnya, bahasa inggrisnya itu udah ada gurunya, miss siwa, wali kelas Desa Kecil 8.1. dan tugasnya itu suruh passive voice (kyknya). ngerjain tugas, blablablablablabla. ok, gw dah gk inget lagi, sumpah. dan kali ini, skip sampe bel pulang.
habis bel pulang, kelas langsung sepi. saat itu cuma ada gw, husni, nikita, dan indah. husni lagi maen laptop, nikita lagi beres2, indah lagi minjem hp gw, dan gw lagi kurang kerjaan. make clana basket. dan akhirnya, kelas langsung begitu sepi, sehingga gw bisa memantulkan suara gw (wkwkwkwkwk). gw keluar kelas, ngambil jaket kesayangan gw, tas, clana basket. gw langsung ada di lantai bawah. daripada gw bengong, gw pun beli buku mtk yg bilingual. 43 ribu. wow. pas gw balik, yg pada basket dah pada ganti baju. gw blom sama sekali. waduh, gimana nih. ok, gw langsung ambil clana basket gw, ke kamar mandi, dan ganti. setelah itu, langsung deh latihan tanpa ada coach.
yg ngelatihnya pas itu kakak kelas. pas itu dilatih soal posisi pas lagi nyerang sama bertahan, crossing, dan banyak lagi. setelah latihan itu, langsung istirahat. beli minuman di kantin. glekglekglek. ahhhhhhhhh. ok, langsung latihan lagi. dan kini langsung games. mainnya setengah lapangan. nah disini gw inget siapa aja yg main. ada dimas darmawan, tito, sama khanza. ada anong (arnold) sama kelas 7. hilmy, bila, sama refin anak kelas 7. gw, dimas haris, sama kelas 7. tim yang juara bertahan itu timnya dimas dermawan. waaaaaaaah. patut dicurigai. habis gw istirahat, pas gw liat ke atas, tiba2 feeling gw jadi buruk. "kyknya mau ujan nih" kata hati gw. oke, gan (kaskus mode = on), gw pun langsung pulang. ngambil motor, bayar parkir, langsung pulang.
nah, dimana semua orang mengakhiri ceritanya dari situ, kini gw punya kisah sendiri di jalanan. dimana semua penerangan buruk akibat mendung, gw pun harus memilih antara memakai kaca helm sama gak. ternyata rintik hujan pun turun. kini, gw harus memakai kaca helm gw. "tantangan shift". itu yang gw sebut terus menerus saat memakai kaca helm siang. rintik hujan pun dihalangi oleh lampu merah. meskipun hujan, namun gw tertib, yaitu berhenti saat lampu merah. hebat kan?? abis lampu merah, gw pun harus dihalangi oleh mobil yang gk mau disalip. berkali-kali gw ambil kanan, mobilnya malah ngebut, seolah-olah pengemudinya tidak memperhatikan prioritas. gw dengan modal pelindung jaket, naik motor, harus menunggu mobil yang rese, kurang ajar, ngajak ribut, konyol, bandot, dan kata2 yg lain yg gk enak buat diucap. setelah menunggu lama, akhirnya dengan suara lamborghini murcielago lp640 yang kehabisan bensin, gw pun melaju menyalip mobil itu. selesailah sudah krisis ini (dan rasanya ingin mengacungkan jari tengah gw ke belakang). namun tak berapa lama, tiba2 mbok darmi nyirem gw dengan air yang deres. aaaaaaaah. eh bukan mbok darmi deh, dari awan. oh dari awan, sukurlah. eitssssss, tunggu dulu. awan?? kayaknya gw pernah tau deh kalo dari awan itu apa ya????? oh iya, hujan deres. eh, waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! buru2 langsung melesat lagi. dan rintangan kali ini adalah pertigaan sentosa. belokannya itu NN (nukik dan nanjak). klo gk hati2, bisa selip, jatoh. akhirnya, gw bisa melalui rintangan itu dan kembali melesat. dengan modal penerangan lampu motor, gw harus bisa melihat kegelapan yang sangat gulita (gk terlalu sih). saat sampe di jawa raya, pandangan menjadi pixel blur (blur yang disebabkan oleh kecilnya jumlah pixel). gw pun masih teguh, dan terus bertahan. dan dengan waktu yang cukup lama, akhirnya sampe lah di rumah. kondisi gw pun terbilang tidak prihatin (jahatnya). badan gw yg ketutup jaket masih kering. isi tas gw terlindung oleh baju gw. alhamdulillah, semua selamat dan aman.
ok, selesai juga cerita hari rabu gw. dan gw berterima kasih kepada yg membaca blog gw. jgn lupa comment dan follow ya........ terima kasih. dan, see you next posting....
Minggu, 06 Februari 2011
Hari Rabu part 1
hari rabu saat itu diawali dengan lamanya kak nurul hasanah. gw udah siap di motor beat gw yang anti jadul (sesuai iklannya), namun kak nurul masiiiiiiiih lama. akhirnya, di ujung pandang gw, keliatan juga deh. lalu gw disuruh ibu gw buat samperin di pertigaan depan rumah gw. dah nyampe, trus kak nurul langsung naek. perjalanan pun dimulai dengan mulus (kaleeee). karna tak ada yang seru saat perjalanan, makanya skip sampe sekolah. parkir di mas yanto, setelah itu nyebrang deh.
beban yg gw bawa sangat banyak. rantang, minum, sama clana basket. ya maklum hari rabu ada basket gitu (dipindah dari hari kamis). dengan sikap sopan santun (sopan iya, santun nggak) yaitu mengetuk pintu dan mengucapkan "assalamualaikum" (meskipun sebagian ada yang gak tau), gw masuk ke dalam kelas 8.1. gw skip aja saat pagi2 karna gak ada yg asik. langsung ke pelajaran bahasa indonesia. sebenarnya, ada pr suruh bikin puisi bebas. untungnya gw udah bikin. dan yang paling buruk lagi, suruh baca di depan kelas. waaaaaaaaaaaaa. puisi gw gak bagus2 amat, tapi suruh baca ke depan. duh gimana nih. terserah, yang penting gw harus bisa, bisa, dan bisa. skip sampe giliran gw. sebenarnya gilirannya itu berdasarkan yang ditunjuk oleh yang lain. dan gw ditunjuk oleh ulfi. duuuuuuuuh. ya sudahlah, mau gk mau harus mau. dengan semangat 45, gw pun membaca puisi gw yang berjudul "matahari", dan kalian tak perlu mengetahui isinya. setelah selesai, ya biasa. nunjuk orang lagi. nunjuknya harus selang-seling (cowo-cewe). dan gw harus diribetkan oleh dua orang. ratna, paksaan dari si dira. dan si widhi, pasaan dari sebagian kelas. dan dengan suara yg (gak) keras, gw nunjuk widhi (Enfors: "cieeeeeeeeeeee!!" Rafi: "bodo, ah" prediksi yang akan terjadi dalam blog ini). dah, selanjutnya, sesungguhnya gw gk ngeliat yg baca puisi. soalnya gw sibuk sama harpot gw.
skip sampai fisika. kelas hampir sepi. soalnya 6 orang yg masuk 10 formatur (yg pasti bukan gw) pergi entah kemana (termasuk widhi. hiks). fisika suruh presentasi. dan gw sekelompok dengan agung, faisal, sama husni. dan, hari itu harus jadi (ye, udah jadi), dan dalam bahasa inggris (yah, gk jadi seneng). masalahnya, kelompok gw udah jadi, tpi bahasa indonesia. dan disuruhnya itu bahasa inggris (gak apa-apa kan, bu? masa ibu gk mencintai bahasa sendiri). and kelompok gw masuk urutan ke-3. so, jadi tegang dong. harus buru2 buat translate. eits, tenang. kan ada google translate. orang2 pasti pada berpikiran kayak gitu, termasuk Enfors. namun tidak bagi kelompok gw. google translate bahasanya ngaco. ya allah, gimana nih? ok, mau gk mau, harus google translate. dan kelompok kita (males bilang 'kelompok gw') diselamatkan oleh bel (Bellman wkwkwk). dan, saatnya istirahat.
istirahat gw dituduh gk enak sama ulfi, calon pengantin widhi (ceritanya). gw dituduh buka2 pisangnya widhi. udah jelas2 gw gak suka pisang. bahkan, es krim pisang pun gw gak mau makan. dengan pasrah, widhi menyerahkan pisangnya. fira trus langsung ambil (kaleee). dan peristiwa itu terjadi saat gw makan bekal gw (pengen makan di istirahat pertama, nyoba-nyoba). bel berbunyi, artinya masuk lagi.
pelajaran ips. ngebahas pr. wow, untung dah ngerjain (horeeeeeee). dibahaslah tuh pr. akhirnya, gw dapet nilai 100 untuk first task. dan, masuklah second task. suruh ngerjain yang selanjutnya. brbrbrbrbrbrbrbrbr, dah selesai. dibahas lagi, betul lagi semuanya. horeeeeeeeeeeeee. dan pelajaran ips pun berakhir dengan bunyi bel.
pelajaran b. inggris. awalnya, gk ada guru. so, ribut deh 8.1. nah, disini ulfi minta laptop yg kosong. gw bilang 'laptop widhi aja, tuh' (emang kosong, orang dia pergi lagi). trus ulfi bilang kalo batrenya abis. trus pengen minjem cas laptop gw (ya, kan sama2 HP Mini. Enfors: "cieeeeeeeeeeeeeeee. laptopnya sama. tanda2 jodoh, nih!!!!!" Rafi: "bodo!!!!"). trus ulfi ngacak2 tas widhi, nyari cas-san. dan, dia ngambil berkas punya widhi (apakah yang akan terjadi? tunggu di part 2). dan skip aja (soalnya gw gak tau ada guru atau gk), waktunya istirahat.
ok, Enfors. itu cerita hari rabu gw. tungguin ya part 2-nya. makasih dah baca blog gw. see you next posting!!!!!!
Rabu, 26 Januari 2011
Porsche 918 Spyder
The Porsche 918 Spyder concept combines high-tech racing features with electric-mobility to offer a fascinating range of qualities. For example, it is planned to provide an emission level of just 70 grams of CO2 per kilometer on fuel consumption of only three liters/100 kilometers (equal to approximately 78 mpg U.S.), which is truly outstanding, even for an ultra-compact city car. This car, however, is intended to offer the performance of a super sports car with acceleration from a standstill to 100 km/h in just under 3.2 seconds, top speed of 320 km/h (198 mph), and a lap time on the Nordschleife of Nurburgring in less than 7:30 minutes, faster than even the Porsche Carrera GT.
The Porsche 918 Spyder is one of three Porsche models with hybrid drive making their world debut at the 2010 Geneva Motor Show. This trio - made up of Porsche's new Cayenne S Hybrid SUV with parallel full-hybrid drive, the 911 GT3 R Hybrid race car with electric drive on the front axle and a flywheel mass battery, and the two-seater high-performance Porsche 918 Spyder mid-engined sports car with plug-in hybrid technology - clearly demonstrates not only the great bandwidth of this new drive technology, but also the innovative power of Porsche as a genuine pioneer in hybrid drive.
The highly-innovative Porsche 918 Spyder concept car combines Porsche's Intelligent Performance philosophy with the high-technology from motorsport, with classic but modern design to make a truly convincing statement.
Innovative powertrain combines race-bred V8 engine with electric drive
This open two-seater is powered by a high-revving V8 developing more than 500 horsepower and a maximum engine speed of 9,200 rpm - as well as electric motors on the front and rear axle with overall mechanical output of 218 horsepower (160 kW).
The V8 combustion engine is the next step in the evolution of the highly successful 3.4-liter power unit already featured in the RS Spyder racing car and positioned mid-ship, in front of the rear axle, giving the car excellent balance and the right set-up for supreme performance on the race track.
Power is transmitted to the wheels by a seven-speed Porsche-Doppelkupplungsgetriebe (PDK) transmission that feeds the power of the electric drive system to the rear axle. The front-wheel electric drive powers the wheels through a fixed transmission ratio.
The energy reservoir is a fluid-cooled lithium-ion battery positioned behind the passenger cell. The big advantage of a plug-in hybrid is that the battery can be charged on the regular electrical network. A further point is that the car's kinetic energy is converted into electrical energy fed into the battery when applying the brakes, thus providing additional energy for fast and dynamic acceleration.
Driver's choice of four distinct driving modes
A button on the steering wheel allows the driver to choose among four different running modes: The E-Drive mode is for running the car under electric power alone, with a range of up to 25 km or 16 miles. In the Hybrid mode, the Porsche 918 Spyder uses both the electric motors and the combustion engine as a function of driving conditions and requirements, offering a range from particularly fuel-efficient all the way to extra-powerful.
The Sport Hybrid mode uses both drive systems, but with the focus on performance. Most of the drive power goes to the rear wheels, with Torque Vectoring serving to additionally improve the car's driving dynamics.
In the Race Hybrid mode the drive systems are focused on pure performance with the highest standard of driving dynamics on the track, running at the limit to their power and dynamic output. With the battery sufficiently charged, a push-to-pass button feeds in additional electrical power (E-Boost), when overtaking or for even better performance.
With the hybrid drive system offering this wide range of individual modes and applications, the Porsche 918 Spyder is able either to achieve lap times comparable to those of a thoroughbred racing car, or the extremely low emissions and high fuel economy figures of a plug-in hybrid.
Advanced body structure and design offer more than just good looks
Like the drivetrain, the lightweight body structure of the Porsche 918 Spyder also bears out the car's DNA carried over directly from motorsport: The modular structure with its monocoque bodyshell made of carbon-fiber-reinforced plastic (CFP) and liberal use of magnesium and aluminum not only reduce weight to below 1,490 kg, or 3,285 lb, but also ensure supreme driving precision thanks to a high level of torsional stiffness.
Reminiscent of highly successful, legendary racing cars such as the Porsche 917 and the current Porsche RS Spyder, the 918 Spyder, with its design concept so typical of Porsche arouses powerful emotions. The combination of racing car dimensions, clearly structured design with perfectly balanced surfaces, and innovative details throughout, creates an ideal synthesis of form and function - following Porsche's design DNA.
The smooth balance of tradition and progress gives the car a powerful stance on the road. Variable aerodynamics, typical of Porsche, ensures both visionary and traditional highlights especially around the rear spoiler. The striking rear hoods extending out of the headrests, in turn, not only fulfill an aerodynamic function on the Porsche 918 Spyder, but also accommodate retractable air intakes with a ram air function.
High-tech interior provides glimpse into the future
The driver and passenger are not only embedded in contoured sports bucket seats but also form part of the cockpit, which provides a synthesis of efficient functionality and ergonomic high-tech operation. Additionally, the cockpit offers a glimpse at the potential interior architecture of future Porsche super sports cars. The three free-standing circular dials for road speed (left), engine speed (middle) and energy management (right) would appear to come directly from a racing car in the '60s, bearing out that unique philosophy of driver orientation so characteristic of Porsche.
The center console rises up towards the front in the Porsche 918 Spyder and houses a touch screen for intuitive control of the car's functions, serving to reduce the number of visible controls and maintain the principle of direct operation.
The control units relevant to the driver are mainly concentrated on the three-spoke multifunction sports steering wheel, while the variable driving modes are supplemented by a switch enabling the driver to call up various drive programs and serving as the push-to-pass button for E-boosting. Instrument illumination, finally, varies from green for the consumption-oriented running modes to red for the performance-oriented driving programs.
The Porsche 918 Spyder concept also comes with further innovative functions such as the Range Manager. After being activated in the Center Display, the Range Manager uses the map in the navigation system to present the remaining range the car is able to cover, naturally allowing the driver to influence that range through the appropriate choice of power and performance.
In cities with environmental alert areas the Range Manager also states whether the driver is able to reach a certain destination on electric power alone.
Applying this information and using further info on the availability and location of special energy filling stations, the driver is then able to choose his personal style of driving as well as the right battery charge and filling strategy.
Offering a unique combination of extremely low fuel consumption, supreme performance and long electric range, the Porsche 918 Spyder concept represents an essential milestone in Porsche's strategy on the way to genuine electric-mobility.
(Source: NetCarShow.com)
Minggu, 23 Januari 2011
RMS Titanic
RMS Titanic (juga SS Titanic) merupakan yang kedua dari tiga kapal penumpang super yang bertujuan untuk mengawali perniagaan perjalanan trans-Atlantik. Dimiliki oleh White Star Line dan dibuat di galangan kapal Harland and Wolff, Titanic merupakan kapal uap penumpang terbesar di dunia pada masa peluncurannya. Pada saat pelayaran pertamanya, Titanic menabrak gunung es pada pukul 23:40 (waktu kapal), Minggu, 14 April 1912, dan tenggelam sekitar dua jam empat puluh menit kemudian pada pukul 2:20 pagi hari Senin.
Bencana tersebut mengakibatkan kematian lebih dari 1.500 orang,dan menjadikannya sebagai bencana laut terburuk semasa zaman dalam sejarah dan sampai kini paling termashyur. Titanic dilengkapi dengan teknologi paling maju pada masa itu dan orang awam percaya bahwa ia “tidak mungkin tenggelam”. Ia amat mengejutkan bagi orang banyak bahwa walaupun dengan teknologi modern dan awak kapal yang berpengalaman, Titanic masih tenggelam dengan jumlah kematian yang tinggi. Kegairahan media massa mengenai korban terkenal Titanic, legenda mengenai apa yang terjadi di atas kapal, mengakibatkan undang-undang laut diganti, dan penemuan kapal yang pecah pada tahun 1985 oleh pasukan yang diketuai oleh Jean-Louis Michel dan Robert Ballard menjadikan Titanic terkenal pada tahun berikutnya.
Pembuatan
Kapal Titanic merupakan kapal penumpang milik White Star Line, dibangun di galangan kapal Harland and Wolff di Belfast, Irlandia Utara, didisain untuk menyaingi Lusitania dan Mauretania milik Cunard Line. Titanic, bersama kapal saudara kembarnya Olympic, Olympic dan yang akan dibuat Britannic (pada awalnya dinamakan Gigantic, bertujuan menjadi kapal paling mewah dan terbesar yang pernah dibuat. Pembuatan RMS Titanic, dibiayai oleh hartawan Amerika, J.P. Morgan dan perusahaannya International Mercantile Marine Co., dimulai pada 31 Maret 1909. Badan kapal Titanic selesai diproduksi pada 31 Mei 1911, dan perlengkapan dalam di selesaikan pada 31 Maret tahun berikutnya. Titanic sepanjang 269 meter (882 kaki 9 inci) dan 28 meter (92 kaki 6 inci) lebar, berat mati 46.328 ton, dan ketinggian dari permukaan air ke geladak setinggi 18 meter (60 kaki). Walaupun ia meliputi banyak ruang dan dengan berat mati yang besar itu, kapal Titanic sama panjangnya dengan kapal Olympic. Titanic dilengkapi dua mesin dengan empat silinder, tiga baling-baling, dan satu turbin Parsons bertekanan rendah yang menggerakkan tiga baling-baling. Terdapat 29 ketel dipanaskan oleh 159 perapian batu bara yang mampu menghasilkan kecepatan sampai 23 knot (43 km/j). Hanya tiga dari empat cerobong kapal setinggi 19 meter (63 kaki) yang berfungsi; cerobong yang keempat digunakan sebagai lubang udara, dan untuk memperlihatkan kehebatan kapal. Kapal Titanic mampu membawa 3.547 penumpang dan awak kapal, karena ia juga mengirim surat, maka namanya diberi penambahan kata depan RMS (Royal Mail Ship) dan juga sebagai kapal uap - SS (Steam Ship).
Pada waktu itu, fasilitas dan kemewahannya tidak dapat ditandingi. Ia menawarkan fasilitas kolam renang, ruang olahraga, pemandian Turki, perpustakaan dan gelanggang squash. Ruang kelas utama dihiasi seluruhnya dengan panel kayu, perabotan mewah dan perhiasan yang indah lainnya. Ia menawarkan tiga lift untuk digunakan penumpang kelas utama dan, satu inovasi pada waktu itu, satu lift bagi penumpang kelas dua.
Titanic dianggap sebagai puncak arsitektur laut dan pencapaian teknologi. Ia dianggap oleh majalah Ship Builders sebagai kapal yang "hampir tidak mungkin tenggelam." Titanic terbagi atas 16 ruang kedap air dengan pintu yang beri pengunci elektrik dan akan menutup hanya dengan menekan satu tombol dari dek kapal; walaupun, sekat kapal tidak menghalangi keseluruhan ketinggian geladak (hanya sampai Dek-E). Titanic mampu terapung dengan baik walau dua ruang tengah dipenuhi air atau empat bagian pertama dipenuhi air; apabila lebih dari itu maka ia akan tenggelam.
Pelayaran Pertama
Kapal Titanic memulai pelayaran pertamanya dari Southampton, Inggris, dalam perjalanan ke New York City, New York, pada Rabu, 10 April 1912, di bawah kendali Kapten Edward J. Smith. Ketika Titanic bergerak meninggalkan tempat berlabuhnya, ombak yang dihasilkan oleh kapal tersebut menyebabkan kapal penumpang New York, yang berlabuh di dekatnya, putus tali tambatnya dan tertarik hampir (sekitar 4 kaki) dari Titanic sebelum kapal tunda New York pergi. Kejadian tersebut baru berhenti setelah satu jam. Selepas menyeberangi selat Inggris, Titanic berhenti di Cherbourg, Prancis, untuk menurunkan dan mengambil penumpang tambahan dan berhenti sekali lagi di Queenstown (sekarang ini dikenal sebagai Cobh), Irlandia, sebelum meneruskan pelayaran ke New York dengan 2.223 penumpang.
Titanic mempunyai tiga bagian kelas penumpang yang dipisahkan. Kelas ketiga juga dikenal sebagai geladak, terdiri dari kabin kecil di dek bawah, diisi oleh kebanyakan pendatang dari inggris yang mengharapkan penghidupan lebih baik di Amerika. Kabin dan ruang kelas kedua, terletak di bagian belakang, memiliki fasilitas yang sama dengan kelas satu di kapal lain. Kebanyakan penumpang kelas kedua pada mulanya menempati kelas satu di kapal yang lain tetapi, karena tidak tersedianya batu bara, maka dipindahkan ke Titanic. Kelas utama merupakan bagian kapal yang paling mewah.
Sebagian dari orang yang terkenal turut belayar sebagai penumpang kelas utama. Ini termasuk jutawan John Jacob Astor dan isterinya Madeleine Force Astor; pemilik kilang Benjamin Guggenheim; pemilik Macy, Isidor Straus dan isterinya Ida; jutawan Denver, Margaret "Molly" Brown; Sir Cosmo Duff-Gordon dan isterinya Lady Lucille Duff-Gordon; George Elkins Widener dan istrinya Eleanor; John Borland Thayer, isterinya Marian dan anak mereka yang berusia tujuh belas tahun, Jack; wartawan William Thomas Stead; Countess of Rothes; pembantu presiden Amerika Serikat Archibald Butt; pengarang dan tokoh masyarakat Helen Churchill Candee; pengarang Jacques Futrelle, dan isterinya May, dan rekan mereka, editor Broadway Henry dan Irene Harris; aktris film bisu Dorothy Gibson; dan yang lain. Ikut bersama di kelas utama lainnya adalah editor urusan White Star Line J. Bruce Ismay yang merencanakan pembuatan Titanic dan pembuat kapal Thomas Andrews, yang turut bersama untuk memantau semua masalah dan menilai kinerja keseluruhan kapal baru tersebut.
Malapetaka
Pada Minggu malam, 14 April, suhu menurun sampai tahap hampir beku dan laut tenang. Bulan tidak keluar dan langit cerah. Kapten Smith, mengetahui peringatan adanya bongkahan gunung es melalui komunikasi nirkabel semenjak beberapa hari lalu, telah mengubah haluan Titanic lebih jauh ke arah selatan. Pada hari Minggu pukul 13:45 waktu setempat, pegawai komunikasi nirkabel dari kapal uap Amerika memberi peringatan bahwa gunung es besar mengapung dalam jalur Titanic, tetapi peringatan ini tidak disampaikan ke dek pengawal. Sore itu, satu lagi laporan mengenai bongkahan gunung es besar yang banyak, kali ini dari Mesaba, juga gagal disampaikan ke dek pengawal.
Pada pukul 23:40 waktu setempat ketika berlayar di selatan Grand Banks di Newfoundland, pengawas Fredrick Fleet dan Reginald Lee melihat bongkahan gunung es yang besar tepat di depan kapal. Fleet membunyikan loceng kapal sebanyak tiga kali dan menelepon dek pengawal memberitahu, "Gunung es, tepat di depan!" Opsir Pertama Murdoch langsung mengarahkan kemudi ke sisi kiri dan mengurangi kecepatan, kemudian mundurkan mesin kapal. Tabrakan ternyata tidak dapat terelakkan, dan gunung es terapung tersebut bergesekan dengan bagian lambung kanan kapal, dan merobek badan kapal di empat bagian pertama dan mematahkan paku baja di bagian bawah kapal yang tertutup permukaan air sepanjang sekitar 91 m (300 kaki). Pintu kedap air baru berhasil menutup rapat saat air sudah memasuki lima bagian kedap air pertama, lebih satu bagian dari apa yang dapat ditahan Titanic agar tidak tenggelam. Berat lima bagian kedap air yang dimasuki air menarik kapal ke bawah melebihi ketinggian dinding kedap air, kemudian air memasuki bagian lain. Kapten Smith, merasakan guncangan hantaman itu, sesampainya ke dek pengawal dan memerintahkan berhenti sepenuhnya. Setelah pemeriksaan oleh pegawai kapten dan Thomas Andrews, sadar bahwa Titanic akan tenggelam, dan setelah tengah malam pada 15 April, perahu penyelamat untuk disiapkan dan panggilan darurat diberitahukan.
Perahu penyelamat pertama, diturunkan pada pukul 00:40 waktu setempat di sebelah kanan dengan hanya di isi 28 orang penumpang di atasnya. Titanic membawa 20 perahu penyelamat dengan kapasitas penuh 1.178 orang penumpang. Walaupun tidak mencukupi untuk membawa semua penumpang dan awak kapal, Titanic membawa cukup perahu penyelamat dan pelampung karena peraturan yang ditetapkan oleh Lembaga Peraturan Inggris. Pada masa itu, jumlah perahu penyelamat yang diperlukan ditetapkan menurut berat mati kapal, bukannya jumlah penumpang yang dibawanya.
Penumpang kelas utama dan kedua dengan mudah bisa mencapai perahu penyelamat dengan tangga yang menuju terus ke dek perahu tetapi penumpang kelas ketiga lebih sulit. Banyak terdapat jalur dari bagian bawah kapal sulit dipahami dan menyulitkan mereka untuk sampai ke perahu penyelamat. Lebih buruk lagi, penumpang kelas tiga saat pintu dikunci oleh awak kapal yang menunggu giliran mengizinkan penumpang naik ke geladak.
Operator radio nirkabel Jack Phillips dan Harold Bride sibuk mengirim CQD, isyarat pertolongan. Beberapa kapal merespon, termasuk Mount Temple, Frankfurt dan kapal saudara kembar Titanic, Olympic, tetapi semuanya terlalu jauh untuk sampai sebelum Titanic tenggelam. Kapal terdekat adalah RMS Carpathia milik Cunard Line yang sejauh 93 kilometer (58 mil) dan hanya berjarak empat setengah jam; terlalu lama untuk menyelamatkan lebih dari setengah penumpang Titanic karena kapalnya sudah tenggelam. Satu-satunya daratan yang menerima isyarat pertolongan Titanic adalah stasiun nirkabel di Cape Race, Newfoundland.
Pada mulanya, penumpang enggan meninggalkan Titanic untuk menaiki perahu penyelamat yang kecil karena merasakan Titanic lebih aman dan tidak ada tanda-tanda apapun sedang berada dalam bahaya atau pun tenggelam. Ini menyebabkan kebanyakan perahu penyelamat dilepas dengan separuhnya kosong; satu perahu yang mampu membawa 40 orang penumpang dilepas dengan hanya 12 orang penumpang di atasnya.
"Wanita dan anak-anak dahulu" diutamakan untuk menaiki perahu penyelamat, Opsir kedua Lightoller, yang mengisi perahu penyelamat di sebelah kiri, hanya memperbolehkan laki-laki yang diperlukan sebagai pengayuh dan tidak untuk sebab lainnya; walaupun masih terdapat tempat kosong. Opsir Pertama Murdoch, yang mengisi perahu di sebelah kanan, memperbolehkan laki-laki naik apabila wanita tidak ada yang mau naik lagi. Saat kapal semakin tenggelam, penumpang mulai cemas dan sebagian perahu penyelamat dilepas dengan penumpang penuh. Pada 02:05 waktu setempat, seluruh bagian depan haluan kapal tenggelam di bawah air, dan kecuali dua buah perahu, semua perahu penyelamat lain telah diturunkan.
Sekitar 02:10 waktu setempat, bagian belakang kapal terangkat dari permukaan air memperlihatkan bagian bawah kapal, kemudi, dan baling-baling kapal , dan pada pukul 02:17 waktu setempat permukaan air membanjiri geladak perahu. Keadaan semakin parah saat dua perahu penyelamat terakhir terapung dari geladak, satu terbalik dan satu lagi separuhnya telah berisi air. Tidak lama kemudian, cerobong asap paling depan jatuh, meremukkan sebagian dek pengawal dan mereka yang terapung dalam air. Di geladak, para penumpang berlari ke arah belakang atau melompat ke laut dengan harapan dapat sampai ke perahu penyelamat. Bagian belakang kapal perlahan-lahan terangkat ke atas, dan barang-barang yang tidak terikat berjatuhan ke laut. Sewaktu bagian belakang kapal terangkat, sistem eletrik mati dan lampu mulai padam. Tidak lama kemudian, pada bagian badan kapal yang tidak kuat menahan beban mengakibatkan Titanic pecah menjadi dua bagian antara dua cerobong terakhir, dan bagian depan tenggelam sepenuhnya. Bagian belakang kapal langsung tehempas kembali di permukaan air dan terangkat tegak lurus. Selepas beberapa saat, pada pukul 02:20 waktu setempat, semuanya tenggelam ke laut.
Dari sejumlah 2.223 orang penumpang, hanya 706 orang penumpang yang selamat; 1.517 orang penumpang tewas. Kebanyakan penumpang tewas disebabkan karena korban terkena hypothermia dalam air 28 °F (−2 °C). Hanya dua dari 18 perahu penyelamat yang kembali untuk menyelamatkan korban dari dalam air selepas kapal tenggelam. Perahu penyelamat nomor empat kembali dan menyelamatkan lima orang, dua dari mereka kemudian tewas. Hampir satu jam kemudian perahu penyelamat nomor empat belas kembali dan menyelamatkan empat orang penumpang yang mana satu penumpang kemudian tewas juga. Penumpang yang lain berhasil menaiki perahu penyelamat yang terapung dari geladak. Terdapat perdebatan di antara penumpang yang selamat. sebagian penumpang yang selamat berinisiatif untuk kembali, tetapi kebanyakan yang selamat takut bila perahu penyelamat mereka akan tenggelam akibat dinaiki korban yang mencoba menaiki perahu mereka atau ditarik oleh Titanic yang tenggelam, walaupun sebenarnya hanya sedikit tarikan yang ada.
Kedua bagian kapal tersebut tenggelam dengan cara berbeda. Bagian depan menancap kira-kira 609 m (2.000 kaki) di bawah permukaan dasar laut dan mendarat dengan agak perlahan. Sedangkan bagian belakang tenggelam dengan cepat ke dasar lautan; badan kapal terburai akibat terdapat udara yang terperangkap di dalam kapal. Bagian belakang kapal menghantam dasar dengan kecepatan tinggi, terbenam jauh ke dalam lumpur.
Diselamatkan
Hampir dua jam setelah Titanic tenggelam, RMS Carpathia tiba di tempat kejadian dan mengambil perahu penyelamat pertama. Dalam beberapa jam kemudian, mereka yang masih hidup diselamatkan. Di geladak Carpathia, doa khusyuk yang singkat untuk yang mereka yang terselamatkan dan untuk memperingati mereka yang tewas diadakan, dan pada pukul 08:50 AM, Carpathia menuju ke New York, dan sampai pada tanggal 18 April.
Saat santunan jiwa diberikan, White Star Line menyewa kapal MacKay-Bennett untuk mengevakuasi jenazah. Sejumlah 338 jenazah akhirnya ditemukan. Kebanyakan jenazah dievakuasi ke Halifax, Nova Scotia, sedangkan jenazah yang tidak dikenal dikebumikan di Pemakaman Fairview.
Dampak Setelah Kejadian
Saat berita mengenai malapetaka tersebut tersebar, banyak orang yang terkejut bahwa Titanic telah tenggelam dengan jumlah korban tewas yang begitu tinggi walaupun dilengkapi dengan teknologi yang maju. Surat kabar dipenuhi berita dan gambaran mengenai malapetaka tersebut dan semuanya tidak henti-hentinya untuk mendapatkan berita terkini. Banyak kotak amal dibuat untuk membantu korban dan keluarga mereka, banyak yang kehilangan orang yang merupakan tulang punggung keluarga, atau dalam kasus penumpang kelas tiga, semua barang yang mereka miliki tenggelam.
Tenggelamnya kapal itu memberi dampak yang mendalam kepada penduduk Southampton. Menurut Hampshire Chronicle pada 20 April 1912, hampir 1.000 keluarga setempat terkena dampaknya secara langsung. Hampir setiap jalan di daerah Chapel kota tersebut kehilangan lebih dari satu penduduk dan hampir 500 rumah kehilangan keluarga.
Sebelum korban yang terselamatkan sampai ke New York, pemeriksaan telah dibuat untuk mengetahui apa yang terjadi atas Titanic, dan apa yang dapat dilakukan untuk menghindari terulangnya peristiwa itu. Senat Amerika Serikat memulai pemeriksaan mengenai musibah Titanic pada 19 April, sehari selepas Carpathia tiba di New York dengan yang selamat. Ketua Penyelidikan, Senator William Alden Smith, ingin mengumpulkan kesaksian penumpang dan awak kapal saat masih segar dalam ingatan mereka. Smith juga memerlukan panggilan tertulis warganegara Inggris untuk pengadilan pada waktu mereka masih berada di negara Amerika. Pemeriksaan Amerika berlangsung sampai tanggal 25 Mei Lord Mersey dilantik untuk mengetuai penyelidikan Dewan Perdagangan Inggris mengenai musibah tersebut. Pemeriksaan Inggris berlangsung antara 2 Mei dan 3 Juli. Setiap pemeriksaan mengambil pendapat dari kedua penumpang maupun ABK Titanic, dan ABK Californian dan pakar lain.
Para penyelidik mendapati kebanyakan peraturan keselamatan ketinggalan zaman dan dengan itu pelbagai langkah keselamatan baru diberlakukan. Kedua pemeriksaan mengenai musibah tersebut mendapati kapten dan kapal Californian gagal memberikan bantuan sewajarnya kepada Titanic. Pemeriksaan tersebut mendapati bahwa Californian lebih dekat dengan Titanic berjarak 31 km (19,5 mil) yang disayangkan oleh Kapten Lord dan bahwa Lord seharusnya membangunkan operator nirkabel setelah tembakan suar dilaporkan kepadanya. Dikarenakan operator nirkabel Californian tidak bertugas, 29 negara mengesahkan Akta Radio 1912, yang menyamakan komunikasi radio, terutama dalam keadaan bahaya.
Musibah tersebut turut mendorong International Convention for the Safety of Life at Sea di London, Inggris, pada 12 November 1913. Pada 20 Januari 1915, persetujuan ditandatangani oleh organisasi tersebut dan menghasilkan pendirian dan pembiayaan Patroli Es Internasional, agensi Pegawai Pesisir Amerika Serikat yang sampai hari ini memantau dan melaporkan lokasi gunung es terapung Lautan Atlantik yang dapat menjadi ancaman bagi jalur laut trans-Atlantik. Disetujui juga dalam peraturan baru bahwa semua kapal penumpang perlu mempunyai perahu penyelamat yang mencukupi bagi semua penumpang di atas kapal, dan latihan keselamatan yang sesuai dilakukan, dan semua komunikasi radio dikendalikan 24 jam s
ehari bersama pusat kendali kedua, agar tidak terlewatkan panggilan darurat. Sebagai tambahan, disetujui bahwa tembakan suar berwarna merah dari kapal haruslah dianggap sebagai tanda darurat dan bahaya.
